Kesederhanaan Berpikir Kunci Pemimpin

Diposting oleh Kopi Miracle on Senin, 03 September 2012

Simpel! Itulah gaya kepemimpinan yang saya kembangkan di PT Exploitasi Energi Indonesia. Hal-hal sederhana, tidak rumit menjadi dasar saya memimpin. Misalnya, selalu memberi atensi lebih ke para pekerja.
Banyak yang tak sadar, memberikan atensi ini punya efek besar bagi pekerja dan perusahaan. Hal sederhana ini misalnya, memberikan nomor telepon ke anak buah.

Apa urgensinya? Mereka bisa berbicara dengan saya selama 24 jam. Mereka butuh komunikasi dan saya siap menjadi teman bicara. Dengan cara ini, saya otomatis bisa memangkas birokrasi, menghilangkan jarak sekaligus memahami masalah.   

Saya yakin, semua hal itu bersumber dari kesederhanaan. Jika kita bicara sederhana, maka yang akan timbul adalah hasil yang sederhana, persoalan yang sederhana dan pemecahan persoalan yang sederhana juga.

Benar, ilmu pengetahuan, bisnis, transaksi itu berkembang sangat cepat dalam bisnis apa pun. Namun, semua itu sebetulnya sederhana kalau kita menuturkan, menerjemahkan perkembangan itu secara sederhana.

Hal lain yang juga penting dalam bekerja adalah punya tanggung jawab. Ini juga simpel. Bahwa hidup adalah tanggung jawab. Kalau Anda hidup, harus bertanggung jawab. Ini juga berlaku dalam pekerjaan.

Adanya tanggung jawab akan membuat kita tak ragu dalam membuat keputusan. Pemimpin itu tinggal menerima laporan saja. Tidak perlu ikut dalam operasional. Fokus pemimpin hanya menyangkut  hal-hal strategis saja.

Meski saya lepas, semua pekerja tentu punya target. Inilah bentuk tanggung jawab mereka ketika bergabung di Exploitasi Energi Indonesia. Target menjadi tanggung jawab yang harus mereka capai. Bila tak tercapai, kami selalu berkomunikasi, mengurai persoalan dan mencari jalan.

Kami memutuskan bersama, meski putusan akhir tetap di pimpinan. Karena itu merupakan tugas saya untuk menyusun strategi perusahaan.

Kesederhanaan saya yakini juga mampu memunculkan sifat humanisme. Karena kita tak ribet berpikir menjadikan empati kita muncul dominan. Menumbuhkan toleransi. Untuk itu, butuh pula ketegasan.

Di Exploitasi, saya juga terbiasa mengajarkan ke pekerja dan diri saya sendiri agar hidup sederhana, tidak neko-neko. Kita lahir dan mati dengan cara sederhana. Kenapa harus dibikin ribet?

Saya misalnya, lebih suka  menggunakan Transjakarta ketimbang mobil karena memang bisa lebih cepat. Saya juga lebih suka menggunakan ojek langganan untuk membawa pergi rapat di tengah kemacetan.
Ini hal sederhana yang saya ajarkan agar ke pekerja. Kalau mereka berpikir sederhana, tak perlu ada alasan terlambat dalam hal apa pun, kan?

Menurut saya, cara berpikir seperti itulah yang bisa mempengaruhi cara kita bekerja. Buat apa ribut-ribut macet, sementara kita masih menjejali jalanan dengan mobil. Jadi, memimpin itu hanya butuh kesederhanaan berpikir.

Hal penting lainnya adalah jangan malu belajar. Makanya, kami selalu memilih bekerja sama dengan perusahaan lain yang hebat agar bisa mendapatkan nilai tambah.

Prinsip saya, berguru kepada orang pintar itu hanya akan mendapatkan keributan, tetapi jika berguru dengan yang lebih pintar dengan kita, kita akan mendapatkan ilmu.

Jadi jangan sungkan bertanya, sebab bukan berarti orang yang bertanya itu tidak tahu. Tetapi biasanya mereka bertanya itu hanya untuk memastikan untuk menentukan langkah selanjutnya.

Sumber : http://executive.kontan.co.id 

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar