Kerinduan dengan Luka di Kaki

Diposting oleh Kopi Miracle on Kamis, 06 September 2012

Makkah-Aqsa-Baghdad (2)‬‬
 
’’Dari Indonesia,’’ jawab saya.‬‬

’’Muslim?’’ tanya tentara Israel bersenjata itu.

’’Yes,’’ jawab saya.‬‬

Kami pun bisa dengan mudah melewati gerbang tua dengan tembok yang tebal dan kukuh itu. Gerbang yang dijaga tentara Israel bersenjata. Itulah gerbang masuk ke kawasan yang luasnya sekitar 10 lapangan sepak bola. Yang di dalamnya terdapat taman dan pepohonan.‬‬

Di tengah taman itu terdapat masjid besar berkubah kuning. Itulah Masjid Kubah Batu. Tidak jauh dari situ, terlihat satu masjid besar lagi: itulah Masjid Al Aqsa.‬‬ Tembok yang mengelilingi kawasan itu terlihat tinggi, tebal, dan terkesan sangat kuno. Dari luar, tembok tersebut tidak terlihat karena tertutup perkampungan yang padat, yang sampai menempel ke tembok.

Dari arah Kota Jerusalem, untuk mencapai gerbang itu, harus jalan kaki melewati gang-gang kecil yang sambung-menyambung. Juga naik turun dan berliku-liku.‬‬ Itulah perkampungan yang hampir 100 persen penduduknya merupakan warga Palestina.‬‬ ‪‪Tukang cukur, penjual makanan dan mainan anak-anak, serta toko kelontong terlihat di sepanjang gang itu.

Melewati gang-gang menuju gerbang Baitul Maqdis, saya teringat bagaimana masuk ke Masjid Ampel Surabaya yang harus melewati kampung Arab yang padat. Ya mirip itulah.‬‬

Bagi penduduk kampung itu, tidak ada larangan apa pun untuk melewati gerbang tersebut. Mereka memiliki KTP berwarna biru. Mereka bisa salat di Baitul Maqdis (baik di Masjid Kubah Batu maupun di Masjid Al Aqsa) kapan saja.‬‬

Tapi, bagi warga di luar kampung tua tersebut, ada peraturan khusus: yang berumur kurang dari 40 tahun tidak boleh masuk. Otomatis juga dilarang salat di sana. Untuk mengontrol mereka, warna KTP-nya dibedakan: hijau. Itu merupakan dalih Israel untuk mencegah berkumpulnya pejuang Palestina dari berbagai penjuru di Masjid Al Aqsa.‬‬

Ada tujuh gerbang masuk ke kawasan Baitul Maqdis tersebut. Semua terhubung dengan gang-gang kecil perkampungan padat Palestina. Semua dijaga tentara Israel bersenjata.‬‬ Kalau saja lebih terurus, kawasan di dalam tembok tua tersebut akan sangat indah. Taman-tamannya yang luas dipisahkan jalan-jalan kecil yang terbuat dari batu. Hanya, kurang rapi dan kurang bersih.‬‬

Hari itu, hari ke-28 bulan puasa, saya tiba di sana langsung dari perbatasan Israel-Jordania. Saya tidak mampir hotel dengan maksud mengejar salat Duhur berjamaah. Tapi telat.

Tapi, ada hikmahnya. Saya bisa salat Duhur bersama keluarga di Masjid Kubah Batu. Laki-laki memang hanya diizinkan memasuki Masjid Kubah Batu di antara waktu duhur dan asar.‬‬ ‪‪Masjid Kubah Batu itu istimewa karena ada bukit batu di tengah-tengahnya. Bukit batu tersebut dikelilingi tembok setinggi 3 meter, sehingga jamaah di sana seperti berjajar melingkarinya.

Dari atas bukit batu itulah Nabi Muhammad SAW ’’naik’’ ke Sidratul Muntaha, menghadap Allah SWT. Yakni, untuk menerima perintah kewajiban menjalankan salat lima kali sehari. Peristiwa itu terjadi pada malam tanggal 27 Rajab, yang kemudian tiap tahun diperingati sebagai Isra Mikraj.‬‬

Waktu peristiwa Isra Mikraj itu terjadi, tentu belum ada bangunan apa pun di situ. Masjid Kubah Batu tersebut baru dibangun belakangan. Di bawah bukit batu tersebut terdapat pula gua yang besarnya cukup untuk bersembunyi 10 orang. Konon, Nabi Ibrahim yang menggalinya.‬‬

Kini masjid Kubah Batu hanya untuk perempuan. Imamnya ikut imam Masjid Al Aqsa dengan pengeras suara yang dialirkan ke masjid itu. Jarak Masjid Kubah Batu dengan Masjid Al Aqsa memang hanya sekitar 300 meter. Al Aqsa lebih di bawah.

Tiga Risiko
Seusai salat Duhur di Masjid Kubah Batu, kami jalan-jalan melihat sisi luar tembok kuno yang mengelilingi kawasan tersebut. Ada satu kawasan di luar tembok yang bisa dibebaskan dari perumahan Palestina. Itulah bagian luar tembok yang kemudian dijadikan tempat ibadah orang Yahudi. Mereka antre menuju tembok itu, menangis dan meratap di situ.‬‬

Sore itu kami salat Asar di Masjid Al Aqsa. Waktu magrib kami ke masjid itu lagi. Disambung salat Isya dan Tarawih.‬‬ Tarawih di sana sama dengan di Makkah, yakni 20 rakaat. Bacaan suratnya pun sangat panjang. Tapi lebih cepat. Bedanya, di setiap habis dua rakaat diselingi salawat Nabi.

Jamaah Tarawih malam itu sekitar 1.500 orang. Hanya, setiap selesai dua rakaat, ada saja yang meninggalkan masjid. Selesai rakaat ke-10, tinggal separo masjid terisi.‬‬

‪‪Di Al Aqsa, mayoritas jamaah mengenakan celana biasa (banyak bercelana jins atau celana anak muda setengah kaki). Hanya beberapa orang yang mengenakan penutup kepala.‬‬ Menjelang subuh, saya ke Masjid Al Aqsa lagi. Genaplah saya salat lima waktu di Al Aqsa.‬‬

Menjelang matahari terbit, saya duduk-duduk di pelataran masjid. Demikian juga puluhan anak muda. Udaranya sejuk. Pepohonan besar terasa seperti mengeluarkan oksigen lebih banyak.‬‬

Saat duduk-duduk itulah saya tahu, ternyata cukup banyak anak muda yang ber-KTP hijau. Kok bisa masuk ke sini?‬‬ ’’Loncat pagar kawat berduri,’’ ujar pemuda 27 tahun tersebut.

’’Saya melewati lubang yang saya buat di bawah pagar,’’ ujar pemuda di sebelahnya.
’’Kalau saya memanfaatkan jarak kawat yang agak renggang yang cukup untuk badan saya,’’ kata seorang pemuda yang ternyata dokter.

Mereka itu adalah pemuda-pemuda Palestina yang sangat merindukan salat di Masjid Al Aqsa. ’’Sejak adanya larangan anak muda datang ke sini, baru sekali ini saya ke Masjid Al Aqsa,’’ ungkapnya.

Al Aqsa tentu sangat istimewa. Itulah infrastruktur pertama yang pernah dibangun di muka bumi. Yakni, 40 tahun setelah pembangunan Kakbah yang pertama. Al Aqsa maupun Kakbah sama-sama sudah mengalami berkali-kali pembangunan kembali. Setelah rusak oleh gempa maupun banjir. Dua-duanya dipercaya dibangun malaikat sebelum Nabi Adam turun ke bumi.‬‬

Keistimewaan Al Aqsa itulah yang membuat para pemuda Palestina tersebut mengambil risiko yang berat untuk bisa salat malam tanggal 27 Ramadan di dalamnya. Al Aqsa adalah tempat suci mereka dan ibu kota negara mereka.‬‬ Sejak Israel membangun perumahan Yahudi di tanah Palestina, perkampungan orang Palestina dipagari kawat berduri. Itu dilakukan untuk memisahkan mereka dari kampung Yahudi.

UUD Israel memang menyebutkan: orang Yahudi dari mana pun yang mau datang ke tanah Palestina disediakan rumah, mobil, dan keperluan hidupnya. Sejak itu, perkampungan Yahudi terus dibangun di tanah Palestina. Orang-orang Palestina sendiri untuk bisa keluar dari kampungnya harus lewat pos penjagaan ketat. Atau meloncati pagar.‬‬

Untuk datang ke Masjid Al Aqsa, misalnya, mereka menempuh tiga risiko. Pertama, bagaimana bisa keluar kampung dengan meloncat pagar. Kedua, bagaimana bisa berjalan kaki jauh, naik turun bukit, untuk mencapai Al Aqsa. Bisa saja di tengah jalan mereka ditangkap. Ketiga, bagaimana dengan KTP hijau mereka bisa melewati penjagaan tentara bersenjata di gerbang masuk Baitul Maqdis.

Israel menduduki tanah Palestina sejak 1947/1948. Waktu itu, kawasan tersebut menjadi jajahan Inggris. Ketika orang Yahudi dimusuhi di mana-mana (terutama di Jerman dan Rusia), pemerintah Inggris memutuskan untuk memberikan negara kepada orang Yahudi. Pilihannya dua. Dua-duanya di wilayah jajahan Inggris: Uganda atau Palestina.‬‬

Semula Inggris menentukan Uganda di Afrika. Tapi, Yahudi menolak. Mereka memilih tanah Palestina. Yahudi percaya Jerusalem adalah tanah leluhur mereka. Sejak itulah tidak pernah ada ketenteraman di Timur Tengah.‬‬

Pemuda yang loncat pagar itu lantas menyingsingkan celananya. ’’Lihat ini,’’ katanya. Terlihat luka-luka baru masih menyisakan darah yang mulai mengering. Bekas goresan pagar kawat berduri itu terlihat memanjang sampai dekat lututnya.

Sumber : www.dahlaniskan.wordpress.com
More aboutKerinduan dengan Luka di Kaki

Anda belum punya Rumah, Ini ada Rumah Murah..

Diposting oleh Kopi Miracle on Rabu, 05 September 2012

“Peluang bisnis penjualan rumah bersubsidi untuk kalangan bawah masih sangat besar. Namun, bukan perkara mudah menarik minat kalangan tersebut. MarketingSakti.com memiliki trik tersendiri dalam menggaet minat mereka. Seperti apa?”

Bisnis properti masih me-nyimpan potensi besar. Pembangunan proyek hunian tak henti dilakukan para developer. Apartemen mewah, real estate hingga perumahan menengah bawah mulai menjamur di setiap kota besar tanah air. Kue jasa menjualnya pun sangat besar sehingga persaingan antara para broker atau agen property tak terhindarkan dalam menggaet pembeli.

Tak susah mendapatkan pembeli dari kalangan berduit yang telah berminat memiliki rumah. Asalkan informasi dari agen sampai ke telinganya, maka tinggal di-follow up, selanjutkan mereka nyaris tak terkendala dengan berbagai persyaratan untuk memiliki rumah. Namun tidak demikian dengan pembeli di kalangan bawah.

Secara populasi kalangan menengah bawah melampaui jumlah kalangan atas. Mereka selama ini menganggap dirinya tak mampu membeli rumah. Padahal pemerintah telah berbaik hati mengeluarkan kebijakan kredit kepemilikan rumah (KPR) bersubsidi bagi mereka. Untuk itulah agen properti rumah bersubsidi berbendera MarketingSakti.Com melancarkan berbagai pendekatan personal secara agresif dalam menarik minat segmen tersebut.

“Di kota seperti Jakarta banyak orang yang masih ngontrak rumah tetapi sebetulnya punya penghasilan yang cukup untuk memiliki rumah bersubsidi. Makanya di setiap wilayah kami mencari jaringan yang bisa melakukan pendekatan personal untuk menyampaikan informasi tentang rumah bersubsidi ini,” ujar Dery Suandi, pemilik MarketingSakti.com

Selanjutnya, bila ada yang berminat dari lingkungan mitra tersebut, pihaknya turun untuk presentasi memberikan informasi sedetail-detailnya. “Mereka akhirnya yakin dengan kemampuannya ketika kami mengatakan ini loh ada rumah murah, dengan DP (down payment- red) Rp600 ribu, cicilan Rp500 ribu, jarak tempuh dari Jakarta paling lambat 40 menit naik motor,” kata pria kelahiran Padang tahun 1976 ini. Di rumah bersubidi tersebut, juga dilengkapi fasilitas seperti sekolah, pasar dan berbagai prasarana pendukung lainnya.

Mendapatkan hati para pembelinya tak hanya dengan membangun jaringan. Pendekatan personal lainnya juga dilakukan kapan dan di mana pun tim MarketingSakti.Com berada. “Kami tidak gengsi. Saya yang hobi jalan-jalan sambil membawa anak, seringkali sambil menyebarkan brosur. Hobi nongkrong saya manfaatkan membuat pameran. Dan jika ke tempat perbelanjaan, misalnya di sebuah restoran, saya dekatin manajernya. Saya ngobrol dan menawarkan kerjasama agar bisa menyampaikan informasi rumah murah bersubsidi ini kepada bawahannya,” jelasnya.

Dery berpandangan, menjual properti itu sebetulnya mudah seperti halnya menjual barang dagangan lainnya. “Jual apa saja sebenarnya sama saja. Selagi informasinya tersebar, yang butuh pasti merespon, dan selanjutnya tinggal bagaimana kita mengelola respon tadi,” lanjut dia. Latar belakang dirinya sebagai pedagang kaki lima di Tanah Abang dan di Bandung sebelum terjun di sektor ini, membuat MarketingSakti.Com menemukan feel sendiri sehingga bisa masuk menanggapi kebutuhan rumah murah kelas bawah.

Mengelolah respon kalangan bawah, Dery melanjutkan, dilakukan dengan koordinasi antara jaringan dan timnya. Sebut saja, pembeli yang berminat di suatu wilayah tertentu dikumpulkan pada hari Sabtu atau Minggu, dan diberikan fasilitas mobil gratis untuk survei ke lokasi perumahan. “Kami membuka wawasan mereka bahwa dengan MarketingSakti.Com, memiliki rumah itu mudah, karena kita memberikan informasi yang mereka butuhkan secara lebih akurat baik dari lokasi, cara beli, tipe, aspek setelahnya sehingga dia memiliki pemahaman yang cukup,” tukasnya.

Ia mencontohkan, setelah calon pembelinya percaya diri bisa membeli rumah, pihaknya memberikan variasi pilihan. “Tempat tinggal wilayah mana yang paling relevan dikaitkan kemampuan finansial dan jarak tempuh ke tempat kerja. Misalnya kerja di daerah Slipi, tetapi secara finansial tidak mampu membeli rumah di Puri Indah, maka dengan sedikit mengorbankan jarak tempuh mereka bisa memiliki rumah di wilayah Tangerang,” katanya.

Tak salah, dari 6 proyek rumah bersubsidi yang digarapnya sejak 3 tahun silam, terutama di Jabodetabek, MarketingSakti.Com terus berkembang. Omsetnya terus meningkat dan kini dari ribuan unit rumah bersubsidi seharga Rp 50 juta hingga Rp 80 juta pihaknya bisa meraup keuntungan bersih Rp 2,5 juta hingga Rp 3,5 juta per unit rumah yang terjual. “Rumah yang terjual setiap bulan berkisar antara 50 sampai 150 unit. Ya dibilang profit ya sudah profit, karena ini bisnis jasa, tak perlu modal besar untuk memulai,” ungkapnya.

Dengan 22 orang personil, MarketingSakti, nyaris bergerak tanpa ancaman persaingan ketat dari agen properti lainnya. “Kami yang paling tahu cara mendekati kelas bawah dengan pengalaman kami tiga tahun. Agen properti kelas atas boleh saja bermain di kelas ini dengan lebih profesional, tetapi tampaknya kami lebih bisa bermain cantik dalam bergaul dengan kelas bawah,” katanya.

Melalui gaya marketing yang kini bisa membuat usahanya bertumbuh, Dery pun membuka peluang sebesar-besarnya kepada siapa pun yang ingin menambah penghasilan. “Bisa dengan memberikan informasi kepada siapa saja di sekitar lingkungan tempat tinggal, kantor atau di mana saja tentang rumah murah. Dan imbalannya, untuk satu rumah yang telah akad kredit, kami akan memberikan Rp 200 ribu. Karena logikanya, bila satu bulan ada 10 orang yang beli rumah berarti sudah sangat cukup untuk menambah penghasilan,” pungkasnya.

Sumber : forumpengusahaindonesia
More aboutAnda belum punya Rumah, Ini ada Rumah Murah..

Jadi Jutawan, Berawal dari Jalanan

Diposting oleh Kopi Miracle

Dari jalanan alias usaha kaki lima, beberapa brand usaha berikut berhasil mengangkat pengusahanya menjadi miliarder.

 Satu, Agus Pramono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono. Dia memulai usahanya dari pedagang kaki lima pada tahun 2000 dengan menggunakan lapak tak terpakai di depan kampus Usahid, Jakarta. Pertama kali jualan, Mas Mono membawa 5 ekor ayam yang ia jadikan 20 potong. Namun yang laku hanya 12 potong. Sejurus kemudian, berkat ketekunannya, dagangannya bertambah hingga mampu menjual 80 hingga ratusan ekor ayam per harinya. Karyawan yang semula hanya satu orang bertambah menjadi beberapa orang dengan standart operasional yang tak umum di kalangan warung kaki lima. Dewi fortuna terus berpihak padanya, orderan bertambah pesat, seperti dari beberapa stasiun TV swasta yang berminat menjadi pelanggan setia cateringnya. Akhirnya, dengan konsep restoran, Ayam Bakar Mas Mono terus berkembang hingga kini memiliki lebih dari 15 gerai di Jakarta dengan omset rata-rata Rp 6 juta setiap harinya.

Dua,  Hendy Setiono, pemilik Kebab Turki Baba Rafi. Ia berhasil menduplikasi sebuah gerobak kebab, berlabel Kebab Turki Baba Rafi, setelah berjuang dengan sebuah gerobaknya di salah satu pojok jalan kota Surabaya tahun 2003. Saat ini jumlah outlet Kebab Turki telah bertambah menjadi lebih 325 outlet di 50 kota di Indonesia dan akan terus berekspansi dengan cara waralaba. Modal awal Rp 4 juta yang ia pinjam dari sahabatnya saat itu, kini berbuah omset miliaran rupiah. Kebab yang merupakan makanan khas orang Timur Tengah, yang diketahuinya sejak bertandang ke Qatar, tempat ayahnya bekerja, ternyata membawa berkah. Demi usahanya, Hendy rela berhenti kuliah dari Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Tekadnya sungguh kuat, kendati suka duka datang silih berganti, seperti uang hasil jualan dibawa lari oleh karyawan, hingga tak ada satu pun karyawan yang mau berjualan.

Tiga, Made Ngurah Bagiana, pemilik Edam Burger. Ditangan Made Ngurah Bagiana, makanan burger yang sebelumnya hanya bisa didapatkan dari brand dunia terkenal dengan harga mahal dan hanya bisa dinikmati kalangan tertentu, kini bisa didapatkan di gerobak kaki lima miliknya dengan brand Edam Burger, yang harganya terjangkau bagi semua kalangan. Berawal dari dua gerobak yang ia dorong sendiri, selama 15 tahun terus menekuni bisnis ini, dengan keluar masuk gang bermandikan keringat, kini Edam Burger bertambah menjadi 2.000-an lebih counter yang telah merambah ke berbagai kota di tanah air.

Empat, Wahyuni, pemilik CV Omocha Toys. Berawal dari usaha mainan edukatif kaki lima tahun 2007 silam, kini Wahyuni meraup omset ratusan juta rupiah. Semula ia bosan hanya sebagai ibu rumahtangga, lalu berdagang mainan anak edukatif asal China yang ia beli, dan kembali menjualnya di pasar kaget Bogor. Usaha ini laris manis, sehingga bisa membuka satu toko mainan di Giant Mal Bogor. Setelah setahun menjalani bisnis tersebut, Yuni akhirnya membuat sendiri berbagai jenis mainan edukatif itu. Alhasil, modal bertambah dan ia mendirikan CV Omocha Toys dengan bangunan semipermanen. Kini Wahyuni mengantongi omzet Rp 80 juta hingga Rp 100 juta per bulan.

Lima, Muhammad Adi, pemilik CV Intascus Sport. Muhammad Adi memulai usahanya sebagai seorang pedagang tas kaki lima dengan modal Rp 50 ribu dan mesin jahit pinjaman dari temannya. Ia mulai usaha ini sejak tahun 1985, dan mulai maju 6 bulan kemudian sehingga bisa mempekerjakan seorang karyawan dengan produksi 150 tas per tahun seharga Rp 20.000 per unit. Pada 1987, Adi mulai menjalin kerjasama dengan panitia penyelenggara acara di hotel-hotel dan pada tahun itu ia memiliki 18 orang tenaga pemasaran. Omzetnya pun telah melonjak hingga Rp 3 juta per hari.. Namun ketika, kerusuhan Mei 1998, usahanya rugi ratusan juta. Adi tak putus asa, ia meminjam uang ke bank untuk memodali usahanya dan pada tahun1999 ia mampu mendapatkan omzet Rp 50 juta per bulan dengan produksi 1000 unit tas dalam sebulan. .

Enam, Edy, pemilik Roti Bakar Eddy. Eddy pertama kali membuka kedai roti bakar di Jalan Hasanudin, tahun 1966, (sekarang di lokasi Pasaraya Blok M). Dari mendorong gerobak sampai melayani pembeli semuanya ia lakukan sendiri. Ia sering pindah tempat usaha selama 13 kali karena diusir aparat. Namun berkat kesabarannya serta kepandaiannya dalam bergaul, usahanya mulai menanjak hingga menjadi tempat nongkrong anak muda hingga para selebritis. Sampai saat ini, Roti Bakar Eddy juga mempertahankan konsepnya sejak awal, yakni warung tenda ala kaki lima dan tempat nongkrong anak-anak muda. Usaha yang telah dialihkan kepada putra bungsunya, Ariyadi ini meraup omzet Rp 5 juta sampai Rp 8 juta per hari. Kini Roti Bakar Eddy telah memiliki beberapa cabang, seperti di Ciputat, Senayan dan Mampang.

Tujuh, Haji Amir, pemilik Nasi Uduk Mas Miskun. Haji Amir berhasil melewati pahit getirnya sebagai pedagang gerobak dorong nasi uduk, karena dalam perjalanan usahanya sering diusir petugas dan berpindah-pindah tempat. Sejak dirintis tahun 1989, Nasi Uduk dengan brand Mas Miskun miliknya, berhasil berkembang menjadi beberapa restoran dan beberapa yang berkonsep kaki lima. Konon, usahanya mulai berkibar setelah menyewa lahan kosong di Jalan Kramat Raya. Dari satu orang karyawan pada tahun 1990, sekarang Haji Amir punya 75 orang pekerja. Omsetnya pun sudah menembus Rp Rp 300 juta per bulan.

Delapan, Suhanto Alim, pemilik Martabak Alim. Setelah mengalami jatuh bangun menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota Jakarta, Suhanto Alim akhirnya memutuskan untuk berdagang. Beberapa jenis dagangan sudah dicobanya, namun gagal. Akhirnya ia mencoba menjual martabak tahun 2007 silam yang ia beri merek Martabak Alim dengan menyewa kios kecil sebuah jalan Bekasi. Terinspirasi dari sebuah toko roti ternama, Alim membuat martabaknya beraneka rasa namun harganya terjangkau, sehingga pengunjung pun rela berantrian. Usahanya pun terus berkibar, hingga saat ini memiliki ratusan karyawan dari semua outlet yang telah menjamur di Jabodetabek.

Sembilan, Rezam Alim, pemilik Toko Sepatu New Fortuna. Berkat kerja keras yang diimbangi dengan sebuah kesabaran dan komitmen yang tinggi dalam menjalankan bisnis sepatu, Rezam Alim mampu naik kelas dari hanya sekedar pedagang kaki lima sepatu di Alun-alun Bandung tahun 1998 menjadi pengusaha sepatu dengan 5 toko sepatu besar dengan nama New Fortuna. Sebagai pedagang kaki lima, jualan sepatunya pernah digusur sehingga akhirnya hijrah ke Jakarta menjalankan bisnis yang sama. Di Jakarta, usahanya menjadi besar kendati awalnya harus berhadapan dengan kendala modal. Tetapi itulah jiwa besar Rezam dalam menjalankan bisnisnya, sehingga mampu meraup omset hingga Rp 400 juta per bulan saat ini.

Sumber : http://www.forumpengusahaindonesia.com
More aboutJadi Jutawan, Berawal dari Jalanan

Gara-Gara 90ribu, Cetak Laba Jutaan Rupiah

Diposting oleh Kopi Miracle

Siapa tak suka manisan, sudah enak, legit, dan bisa dijadikan kudapan dikala senggang. Apalagi bila buahnya manis dan segar, manisan pun bisa disimpan hingga lebih dari dua bulan.

Namun, tahukah Anda bila buah ceremai ternyata bisa dijadikan manisan. Terdorong oleh kebutuhan hidup dan sekadar membuat dapur ngebul, masyarakat di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, memanfaatkannya menjadi peluang usaha yang menguntungkan.

Sang pemilik usaha manisan buah ceremai, Indah, saat berbincang dengan okezone, mengatakan bila modal yang dikeluarkan untuk membuat manisan ini hanya sebesar Rp90 ribu. Usaha yang dijalankan selama setahun dua kali ini memang diakuinya musiman, namun keuntungannya bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Biasanya kami jual hanya dua kali dalam setahun. Sudah jadi tradisi ya, biar keuntungannya tipis, tapi lumayan lah buat bantu-bantu ngisi dapur. Modalnya juga enggak terlalu besar, tipis memang untungnya, tapi lumayan lah," ceritanya sembari melayani pengunjung.

Indah menceritakan, untuk membuat manisan ceremai tersebut, dirinya hanya membutuhkan bahan baku buah ceremai dan gula pasir. Dia membeli buah ceremai dari pulau seberang biasanya hingga tiga ember, di mana harga per embernya sebesar Rp15 ribu. Lalu dia akan membagi rejekinya kepada orang lain untuk menggiling buah tersebut yang jasanya dihargai Rp15 ribu.

"Saya bisa bikin sendiri sebenarnya, tapi saya mau bagi-bagi rejeki buat orang lain, jadi saya pakai jasa orang lain buat menggiling. Habis beli buah ceremai emberan, ya nanti baru digiling ramai-ramai," tukas wanita beranak dua ini.

Nantinya, usai buah ceremai digiling, barulah ditaruh di dalam boks, yang dijual sebesar Rp6.000. Adapun dalam sekali giling, dia bisa mendapatkan sebanyak 20 boks. Selanjutnya, dia menjelaskan, manisan buah ceremai yang sudah jadi dihargainya sebesar Rp8.000 per toples untuk dipasarkan, serta bisa bertahan hingga dua bulan.

"Harganya cuma Rp8.000 saja. Kalau sudah jadi, saya bisa sampai menjual ratusan toples. Dijualnya juga buat para wisatawan sama warga sekitar sini," tandas Indah.

Namun demikian, dia mengakui jika omzet penjualan manisan buah ceremai ini tidaklah besar. Dirinya pun bersyukur jika keuntungannya itu bisa menghidupi keluarganya, di samping dia sudah membuka toko kelontong sendiri.

"Yah, Rp90 ribu memang modalnya, tapi Alhamdullilah sudah bisa balik modal. Sekali bikin bisa dapat 20 boks, satu boksnya Rp6 ribu, untungannya bisa sampai Rp1 jutaan, kadang di bawah itu. Soalnya ini kan buah musiman," pungkasnya.

Sumber : http://economy.okezone.com
More aboutGara-Gara 90ribu, Cetak Laba Jutaan Rupiah

Diposting oleh Kopi Miracle on Selasa, 04 September 2012

Hari itu wartawan foto berbondong ke Stasiun Pasar Senen, Jakata. Semua wartawan (he he he, saya pun dulu begitu) sudah hafal ini: stasiun Senen adalah objek berita yang paling menarik di setiap menjelang lebaran.

Tidak usah menunggu perintah redaksi, wartawan pun tahu. Ke Senenlah cara terbaik untuk mendapat foto terbaik (baca: foto yang menyedihkan): antrean yang mengular, bayi yang terjepit di gendongan, orang tua yang tidur kelelahan di dekat toilet, anak kecil yang dinaikkan kereta lewat jendela, wanita yang kegencet pintu kereta, dan sejenisnya.

Menjelang lebaran tahun ini objek-objek yang “seksi” di mata wartawan foto itu tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi. Tidak ada lagi desakan, himpitan, gencetan, dan jenis penderitaan lain yang menarik untuk difoto. Para wartawan pun banyak yang terlihat duduk hanya menunggu momentum. Dan yang ditunggu tidak kunjung terlihat.

Maka dengan isengnya, seorang petugas stasiun mengirimkan foto ke HP saya. Rupanya dia baru saja memotret kejadian yang menarik: seorang wartawan yang karena tidak mendapatkan objek yang menarik, memilih memotret akuarium yang ada di stasiun. Foto “wartawan memotret” itu pun dia beri teks begini: tidak ada objek foto, wartawan pun memotret akuarium!

Seorang penumpang jurusan Malang, yang sehari sebelumnya ikut upacara HUT Kemerdekaan RI di kantornya, mengirimkan SMS ke saya: seumur hidup mudik lebaran, baru lebaran tahun ini saya merasakan kemerdekaan!

Tentu, saya merasa tidak layak mendapat SMS pujian setinggi langit seperti itu. SMS itu pun segera saya forward ke Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Ignasius Jonan. Jonanlah (dan seluruh jajaran direksi dan karyawan kereta api) yang lebih berhak mendapat pujian itu.

Banyak sekali SMS dengan nada yang sama. Semua saya forward ke Jonan. Pak Dirut pun menyebarkannya ke seluruh jajaran kerata api di bawahnya.

Keesokan harinya memang terlihat tidak satu pun koran memuat foto utama mengenai keruwetan di stasiun kereta api. Harian Kompas bahkan menurunkan tulisan panjang di halaman depan: memberikan pujian yang luar biasa atas kinerja kereta api tahun ini. Banyak pembaca mengirimkan versi online tulisan di Kompas itu itu ke email saya, khawatir saya tidak membacanya.

Tentu saya sudah membacanya. Dan meski saya pun tahu Jonan pasti sudah pula membacanya, tetap saja saya emailkan juga kepadanya.

Beberapa hari kemudian, Kompas kembali mengapresiasi kerja keras itu. Sosok Jonan, ahli keuangan lulusan Harvard USA itu, ditampilkan nyaris setengah halaman.

Di hari yang sama, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, menulis artikel panjang di Suara Pembaruan: juga memuji perbaikan layanan KAI belakangan ini.

Membenahi kereta api, saya tahu, bukan perkara yang mudah. Jonan sendiri sebenarnya “kurang waras”. Betapa enak dia jadi eksekutif bank Amerika, Citi, dengan ruang AC dan fasilitas yang menggiurkan.

Di BUMN awalnya dia memimpin BUMN jasa keuangan PT Bahana. Kini dia pilih berpanas-panas naik KA dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Dekat dan jauh. Besar dan kecil. Dia benahi satu per satu. Mulai layanan, kebersihan, dan perkara-perkara teknis.

Padahal membenahi kereta api itu musuhnya banyak dan lengkap: luar, dalam, atas, bawah, kiri, kanan, muka, belakang. Bahkan kanan-luar dan kiri-luar.

Kanan dalam dan kiri dalam. Bisa saja terjadi, gawangnya jebol bukan karena hebatnya serangan bola dari musuh, tapi karena barisan belakang kereta apinya yang bikin gol sendiri.

Tapi sorak-sorai supporter yang menginginkan kereta api terus bisa mencetak gol tidak henti-hentinya bergema. Para penyerang di barisan depan kereta api pun tidak lelah-lelahnya membuat gol.

Membuat gol sekali, kebobolan gol sekali. Membuat lagi gol dua kali, kebobolan gol lagi sekali. Tapi gol-gol berikutnya lebih banyak yang dibuat daripada yang masuk ke gawang sendiri.

Jonan, sebagai kapten tim kereta api terus memberi umpan ke depan sambil lari ke muka dan ke belakang. Untung badannya kecil dan kurus sehingga larinya lincah. Untung gizinya baik sehingga tidak perlu minggir untuk minum. Untung (meski si kapten kadang main kayu dan nada teriaknya kasar), wasitnya tidak melihat, atau pura-pura tidak melihat.

Kalau saja timnya tidak bisa bikin banyak gol, pastilah dia sudah terkena kartu merah: baik karena tackling-nya yang keras maupun teriakan-teriakannya yang sering melanggar etika bermain bola.

Saya tahu Jonan orang yang tegas, lurus, dan agak kosro (saya tidak akan menerjemahkan bahasa Surabaya yang satu itu, karena Jonan adalah arek Suroboyo). Tapi dalam periode sekarang ini kereta api memang memerlukan komandan yang seperti itu. Saya kagum dengan Menteri BUMN Sofyan Djalil, kok dulu bisa menemukan orang unik seperti Jonan.

Untuk menggambarkan secara jelas sosok orang yang satu ini, motto majalah Tempo “enak dibaca dan perlu” bisa dikutip, tapi harus dimodifikasi sedikit: “menyebalkan dilihat dan perlu”.

Tapi kereta api memang memerlukan orang yang “menyebalkan” seperti Jonan. Dia menyebalkan seluruh perokok, karena sejak awal tahun ini dia melarang merokok di kereta api. Bahkan di kelas ekonomi yang tidak ber AC sekali pun! Bayangkan betapa besar gejolak dan resistensi yang timbul. Sesekali Jonan hanya kirim SMS ke saya. “Pak Dis, ini diteruskan atau tidak?”. Jawaban saya pun biasanya pendek saja: Teruuuuus!

Tidak lama kemudian dia pun mengeluarkan kebijakan yang sangat sensitif: tidak boleh ada asongan yang berjualan dengan cara masuk ke gergong-gerbong kereta api. Belum lagi reaksi reda, muncul instruksi Bapak Presiden agar kiri-kanan jalan kereta api ditertibkan.

Ini sungguh pekerjaan yang berat. Dan makan perasaan. Lahir dan batin. Tapi Jonan, dengan cara dan kiat-kiatnya, bisa melaksanakan instruksi tersebut dengan, tumben he he, agak bijak.

Gol demi gol terus dia ciptakan. Dia keluarkan lagi kebijakan ini: tiap penumpang harus mendapat tempat duduk. Termasuk penumpang kelas ekonomi. Ini berarti penjualan karcis harus sama dengan jumlah tempat duduk. Tidak boleh lagi ada penumpang yang berdiri.

Banyak orang yang dulu hobinya berdiri di pintu KA (seperti kebiasaan saya di masa remaja), tidak bisa lagi meneruskan hobinya itu. Reaksi keras atas kebijakannya ini sungguh luar biasa.

Mengapa?
Kebijakannya kali ini ibarat belati yang langsung mengenai ulu hati orang dalam sendiri. Di sinilah tantangan terberat Jonan. Tidak lagi dari luar atau dari penumpang, tapi dari jaringan ilegal orang dalam sendiri. Jaringan yang sudah turun-temurun, menggurita, beranak-pinak, dan kait-mengait.

Marahnya orang luar bisa dilihat, tapi dendamnya orang dalam bisa seperti musuh dalam selimut: bisa mencubit sambil memeluk. Orang Surabaya sering mengistilahkannya dengan hoping ciak kuping: sahabat yang menggigit telinga.

Peristiwa karcis ganda, penumpang tidak dapat tempat duduk, harga karcis yang jauh di atas tarif, kursi kosong yang dibilang penuh, dan ketidaknyamanan lainnya, pada dasarnya, ujung-ujungnya adalah permainan jaringan yang sudah menggurita itu.

Berbagai cara untuk menyelesaikannya selalu gagal. Spanduk “berantas calo!”, “tangkap calo!”, dan sebangsanya sama sekali tidak ada artinya.

Seruan seperti itu hanyalah omong kosong. Jonan tahu: teknologilah jalan keluarnya. Tapi teknologi juga harus ada yang menjalankannya. Dan yang menjalankannya harus juga manusia. Dan yang namanya manusia, apalagi manusia yang lagi marah, ngambek, jengkel dan dendam, bisa saja membuat teknologi tidak berfungsi.

Tapi Jonan sudah menaikkan gaji karyawannya. Sudah memperbaiki kesejahteraan stafnya. Seperti juga terbukti di PLN, orang-orang yang mengganggu di sebuah organisasi sebenarnya tidaklah banyak. Hanya sekitar 10 persen. Yang terbanyak tetap saja orang yang sebenarnya baik. Yang mayoritas mutlak tetaplah yang menginginkan perusahannya atau negaranya baik.

Hanya saja mereka memerlukan pemimpin yang baik. Bukan pemimpin yang justru membuat perusahaannya bobrok. Bukan juga pemimpin yang justru menyingkirkan orang-orang yang baik. Jonan yang sudah meninggalkan kedudukan tingginya di bank asing, bisa menjadi pemimpin yang tabah, tangguh, dan sedikit ndablek.

Di PT Kereta Api Indonesia pun sama: mayoritas karyawan sebenarnya menginginkan kereta api berkembang baik dan maju. Buktinya, langkah-langkah perbaikan yang digebrakkan manajemen akhirnya bisa dijalankan oleh seluruh jajarannya.

Bahwa ada hambatan dan kesulitan di sana-sini, adalah konsekwensi dari sebuah organisasi yang besar, yang kadang memang tidak lincah untuk berubah. Tapi organisasi besar KAI, dengan karyawan 20.000 orang, ternyata bisa berubah relatif cepat.

Transformasi di PT KAI sungguh pelajaran yang amat berharga bagi khasanah manajemen di Indonesia.
Lebaran tahun 2012 ini, harus dicatat dalam sejarah percaloan di Indonesia. Inilah sejarah di mana tidak ada lagi calo tiket kereta api. Semua orang bisa membeli tiket dari jauh: dari rumahnya dan dari ratusan outlet mini market di mana pun berada. Orang bisa membeli tiket kapan pun untuk pemakaian kapan pun.

Orang pun bisa melihat di komputer masing-masing, kursi mana yang masih kosong dan kursi mana yang diinginkan. Orang juga bisa melihat kereta yang mereka tunggu sedang di stasiun mana dan kereta itu akan tiba berapa menit lagi.

Naik kereta api juga harus menggunakan boarding pass. Setiap penumpang akan diperiksa apakah nama yang tertera di tiket sama dengan nama yang ada pada ID si penumpang.

Dengan cara ini, bukan saja orang tanpa tiket tidak bisa masuk kereta, yang dengan tiket pun akan ditolak kalau namanya berbeda. Persis seperti naik pesawat.

Dengan cara ini, memang praktis tidak memberi peluang calo untuk beroperasi. Tapi jasa membelikan tiket bisa saja tetap hidup, bahkan berkembang dengan legal.

Dengan gebrakan terakhir ini, jumlah penumpang kereta api menurun. Tapi, anehnya, dalam keadaan jumlah penumpang menurun, penghasilan kereta api naik 110 persen!

Tentu masih banyak yang harus dilakukan. Program kereta ekonomi ber-AC, tempat turun penumpang yang kadang masih di luar peron (sehingga harus loncat dan terjatuh), membuat kereta lebih bersih lagi, mengurangi kerusakan, mempercantik stasiun, dan menata lingkungan di sekitar stasiun adalah pekerjaan yang juga tidak mudah.

Toilet-toilet juga akan banyak diubah dari toilet jongkok menjadi toilet duduk. Selama ini wanita yang mengenakan celana jeans mengalani kesulitan dengan toilet jongkok. Gaya hidup penumpang kereta memang sudah banyak berubah sehingga pengelola kereta juga harus menyesuaikan diri.

Kini banyak sekali penumpang yang merasa nyaman di KA: charger HP sudah tersedia di semua kursi. Kompor gas di kereta makan tidak ada lagi. Toilet-toilet di stasiun sudah lebih bersih (bahkan di beberapa stasiun sudah lebih bersih daripada toilet di bandara).

Perbaikan manajemen ini akan mencapai puncaknya 18 bulan lagi: saat jalur ganda kereta api Jakarta-Surabaya selesai dibangun. Di pertengahan 2014 itu, di jalur Jakarta-Surabaya memang belum ada Sinkansen, tapi harapan baru kereta yang lebih baik sudah di depan mata!

(*) Menteri Negara BUMN

Sumber : 
More about

Tidak Bayi Tergencet, Akuarium pun Jadi

Diposting oleh Kopi Miracle

Hari itu wartawan foto berbondong ke Stasiun Pasar Senen, Jakata. Semua wartawan (he he he, saya pun dulu begitu) sudah hafal ini: stasiun Senen adalah objek berita yang paling menarik di setiap menjelang lebaran.

Tidak usah menunggu perintah redaksi, wartawan pun tahu. Ke Senenlah cara terbaik untuk mendapat foto terbaik (baca: foto yang menyedihkan): antrean yang mengular, bayi yang terjepit di gendongan, orang tua yang tidur kelelahan di dekat toilet, anak kecil yang dinaikkan kereta lewat jendela, wanita yang kegencet pintu kereta, dan sejenisnya.

Menjelang lebaran tahun ini objek-objek yang “seksi” di mata wartawan foto itu tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi. Tidak ada lagi desakan, himpitan, gencetan, dan jenis penderitaan lain yang menarik untuk difoto. Para wartawan pun banyak yang terlihat duduk hanya menunggu momentum. Dan yang ditunggu tidak kunjung terlihat.

Maka dengan isengnya, seorang petugas stasiun mengirimkan foto ke HP saya. Rupanya dia baru saja memotret kejadian yang menarik: seorang wartawan yang karena tidak mendapatkan objek yang menarik, memilih memotret akuarium yang ada di stasiun. Foto “wartawan memotret” itu pun dia beri teks begini: tidak ada objek foto, wartawan pun memotret akuarium!

Seorang penumpang jurusan Malang, yang sehari sebelumnya ikut upacara HUT Kemerdekaan RI di kantornya, mengirimkan SMS ke saya: seumur hidup mudik lebaran, baru lebaran tahun ini saya merasakan kemerdekaan!

Tentu, saya merasa tidak layak mendapat SMS pujian setinggi langit seperti itu. SMS itu pun segera saya forward ke Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Ignasius Jonan. Jonanlah (dan seluruh jajaran direksi dan karyawan kereta api) yang lebih berhak mendapat pujian itu.

Banyak sekali SMS dengan nada yang sama. Semua saya forward ke Jonan. Pak Dirut pun menyebarkannya ke seluruh jajaran kerata api di bawahnya.

Keesokan harinya memang terlihat tidak satu pun koran memuat foto utama mengenai keruwetan di stasiun kereta api. Harian Kompas bahkan menurunkan tulisan panjang di halaman depan: memberikan pujian yang luar biasa atas kinerja kereta api tahun ini. Banyak pembaca mengirimkan versi online tulisan di Kompas itu itu ke email saya, khawatir saya tidak membacanya.

Tentu saya sudah membacanya. Dan meski saya pun tahu Jonan pasti sudah pula membacanya, tetap saja saya emailkan juga kepadanya.

Beberapa hari kemudian, Kompas kembali mengapresiasi kerja keras itu. Sosok Jonan, ahli keuangan lulusan Harvard USA itu, ditampilkan nyaris setengah halaman.

Di hari yang sama, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, menulis artikel panjang di Suara Pembaruan: juga memuji perbaikan layanan KAI belakangan ini.

Membenahi kereta api, saya tahu, bukan perkara yang mudah. Jonan sendiri sebenarnya “kurang waras”. Betapa enak dia jadi eksekutif bank Amerika, Citi, dengan ruang AC dan fasilitas yang menggiurkan.

Di BUMN awalnya dia memimpin BUMN jasa keuangan PT Bahana. Kini dia pilih berpanas-panas naik KA dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Dekat dan jauh. Besar dan kecil. Dia benahi satu per satu. Mulai layanan, kebersihan, dan perkara-perkara teknis.

Padahal membenahi kereta api itu musuhnya banyak dan lengkap: luar, dalam, atas, bawah, kiri, kanan, muka, belakang. Bahkan kanan-luar dan kiri-luar.

Kanan dalam dan kiri dalam. Bisa saja terjadi, gawangnya jebol bukan karena hebatnya serangan bola dari musuh, tapi karena barisan belakang kereta apinya yang bikin gol sendiri.

Tapi sorak-sorai supporter yang menginginkan kereta api terus bisa mencetak gol tidak henti-hentinya bergema. Para penyerang di barisan depan kereta api pun tidak lelah-lelahnya membuat gol.

Membuat gol sekali, kebobolan gol sekali. Membuat lagi gol dua kali, kebobolan gol lagi sekali. Tapi gol-gol berikutnya lebih banyak yang dibuat daripada yang masuk ke gawang sendiri.

Jonan, sebagai kapten tim kereta api terus memberi umpan ke depan sambil lari ke muka dan ke belakang. Untung badannya kecil dan kurus sehingga larinya lincah. Untung gizinya baik sehingga tidak perlu minggir untuk minum. Untung (meski si kapten kadang main kayu dan nada teriaknya kasar), wasitnya tidak melihat, atau pura-pura tidak melihat.

Kalau saja timnya tidak bisa bikin banyak gol, pastilah dia sudah terkena kartu merah: baik karena tackling-nya yang keras maupun teriakan-teriakannya yang sering melanggar etika bermain bola.

Saya tahu Jonan orang yang tegas, lurus, dan agak kosro (saya tidak akan menerjemahkan bahasa Surabaya yang satu itu, karena Jonan adalah arek Suroboyo). Tapi dalam periode sekarang ini kereta api memang memerlukan komandan yang seperti itu. Saya kagum dengan Menteri BUMN Sofyan Djalil, kok dulu bisa menemukan orang unik seperti Jonan.

Untuk menggambarkan secara jelas sosok orang yang satu ini, motto majalah Tempo “enak dibaca dan perlu” bisa dikutip, tapi harus dimodifikasi sedikit: “menyebalkan dilihat dan perlu”.

Tapi kereta api memang memerlukan orang yang “menyebalkan” seperti Jonan. Dia menyebalkan seluruh perokok, karena sejak awal tahun ini dia melarang merokok di kereta api. Bahkan di kelas ekonomi yang tidak ber AC sekali pun! Bayangkan betapa besar gejolak dan resistensi yang timbul. Sesekali Jonan hanya kirim SMS ke saya. “Pak Dis, ini diteruskan atau tidak?”. Jawaban saya pun biasanya pendek saja: Teruuuuus!

Tidak lama kemudian dia pun mengeluarkan kebijakan yang sangat sensitif: tidak boleh ada asongan yang berjualan dengan cara masuk ke gergong-gerbong kereta api. Belum lagi reaksi reda, muncul instruksi Bapak Presiden agar kiri-kanan jalan kereta api ditertibkan.

Ini sungguh pekerjaan yang berat. Dan makan perasaan. Lahir dan batin. Tapi Jonan, dengan cara dan kiat-kiatnya, bisa melaksanakan instruksi tersebut dengan, tumben he he, agak bijak.

Gol demi gol terus dia ciptakan. Dia keluarkan lagi kebijakan ini: tiap penumpang harus mendapat tempat duduk. Termasuk penumpang kelas ekonomi. Ini berarti penjualan karcis harus sama dengan jumlah tempat duduk. Tidak boleh lagi ada penumpang yang berdiri.

Banyak orang yang dulu hobinya berdiri di pintu KA (seperti kebiasaan saya di masa remaja), tidak bisa lagi meneruskan hobinya itu. Reaksi keras atas kebijakannya ini sungguh luar biasa.

Mengapa?
Kebijakannya kali ini ibarat belati yang langsung mengenai ulu hati orang dalam sendiri. Di sinilah tantangan terberat Jonan. Tidak lagi dari luar atau dari penumpang, tapi dari jaringan ilegal orang dalam sendiri. Jaringan yang sudah turun-temurun, menggurita, beranak-pinak, dan kait-mengait.

Marahnya orang luar bisa dilihat, tapi dendamnya orang dalam bisa seperti musuh dalam selimut: bisa mencubit sambil memeluk. Orang Surabaya sering mengistilahkannya dengan hoping ciak kuping: sahabat yang menggigit telinga.

Peristiwa karcis ganda, penumpang tidak dapat tempat duduk, harga karcis yang jauh di atas tarif, kursi kosong yang dibilang penuh, dan ketidaknyamanan lainnya, pada dasarnya, ujung-ujungnya adalah permainan jaringan yang sudah menggurita itu.

Berbagai cara untuk menyelesaikannya selalu gagal. Spanduk “berantas calo!”, “tangkap calo!”, dan sebangsanya sama sekali tidak ada artinya.

Seruan seperti itu hanyalah omong kosong. Jonan tahu: teknologilah jalan keluarnya. Tapi teknologi juga harus ada yang menjalankannya. Dan yang menjalankannya harus juga manusia. Dan yang namanya manusia, apalagi manusia yang lagi marah, ngambek, jengkel dan dendam, bisa saja membuat teknologi tidak berfungsi.

Tapi Jonan sudah menaikkan gaji karyawannya. Sudah memperbaiki kesejahteraan stafnya. Seperti juga terbukti di PLN, orang-orang yang mengganggu di sebuah organisasi sebenarnya tidaklah banyak. Hanya sekitar 10 persen. Yang terbanyak tetap saja orang yang sebenarnya baik. Yang mayoritas mutlak tetaplah yang menginginkan perusahannya atau negaranya baik.

Hanya saja mereka memerlukan pemimpin yang baik. Bukan pemimpin yang justru membuat perusahaannya bobrok. Bukan juga pemimpin yang justru menyingkirkan orang-orang yang baik. Jonan yang sudah meninggalkan kedudukan tingginya di bank asing, bisa menjadi pemimpin yang tabah, tangguh, dan sedikit ndablek.

Di PT Kereta Api Indonesia pun sama: mayoritas karyawan sebenarnya menginginkan kereta api berkembang baik dan maju. Buktinya, langkah-langkah perbaikan yang digebrakkan manajemen akhirnya bisa dijalankan oleh seluruh jajarannya.

Bahwa ada hambatan dan kesulitan di sana-sini, adalah konsekwensi dari sebuah organisasi yang besar, yang kadang memang tidak lincah untuk berubah. Tapi organisasi besar KAI, dengan karyawan 20.000 orang, ternyata bisa berubah relatif cepat.

Transformasi di PT KAI sungguh pelajaran yang amat berharga bagi khasanah manajemen di Indonesia.
Lebaran tahun 2012 ini, harus dicatat dalam sejarah percaloan di Indonesia. Inilah sejarah di mana tidak ada lagi calo tiket kereta api. Semua orang bisa membeli tiket dari jauh: dari rumahnya dan dari ratusan outlet mini market di mana pun berada. Orang bisa membeli tiket kapan pun untuk pemakaian kapan pun.

Orang pun bisa melihat di komputer masing-masing, kursi mana yang masih kosong dan kursi mana yang diinginkan. Orang juga bisa melihat kereta yang mereka tunggu sedang di stasiun mana dan kereta itu akan tiba berapa menit lagi.

Naik kereta api juga harus menggunakan boarding pass. Setiap penumpang akan diperiksa apakah nama yang tertera di tiket sama dengan nama yang ada pada ID si penumpang.

Dengan cara ini, bukan saja orang tanpa tiket tidak bisa masuk kereta, yang dengan tiket pun akan ditolak kalau namanya berbeda. Persis seperti naik pesawat.

Dengan cara ini, memang praktis tidak memberi peluang calo untuk beroperasi. Tapi jasa membelikan tiket bisa saja tetap hidup, bahkan berkembang dengan legal.

Dengan gebrakan terakhir ini, jumlah penumpang kereta api menurun. Tapi, anehnya, dalam keadaan jumlah penumpang menurun, penghasilan kereta api naik 110 persen!

Tentu masih banyak yang harus dilakukan. Program kereta ekonomi ber-AC, tempat turun penumpang yang kadang masih di luar peron (sehingga harus loncat dan terjatuh), membuat kereta lebih bersih lagi, mengurangi kerusakan, mempercantik stasiun, dan menata lingkungan di sekitar stasiun adalah pekerjaan yang juga tidak mudah.

Toilet-toilet juga akan banyak diubah dari toilet jongkok menjadi toilet duduk. Selama ini wanita yang mengenakan celana jeans mengalani kesulitan dengan toilet jongkok. Gaya hidup penumpang kereta memang sudah banyak berubah sehingga pengelola kereta juga harus menyesuaikan diri.

Kini banyak sekali penumpang yang merasa nyaman di KA: charger HP sudah tersedia di semua kursi. Kompor gas di kereta makan tidak ada lagi. Toilet-toilet di stasiun sudah lebih bersih (bahkan di beberapa stasiun sudah lebih bersih daripada toilet di bandara).

Perbaikan manajemen ini akan mencapai puncaknya 18 bulan lagi: saat jalur ganda kereta api Jakarta-Surabaya selesai dibangun. Di pertengahan 2014 itu, di jalur Jakarta-Surabaya memang belum ada Sinkansen, tapi harapan baru kereta yang lebih baik sudah di depan mata!

(*) Menteri Negara BUMN
More aboutTidak Bayi Tergencet, Akuarium pun Jadi

Dahlan: Hidup di Perpanjang Lima Tahun

Diposting oleh Kopi Miracle

Hari ini, Senin 6 Agustus 2012, genap lima tahun saya "hidup baru". Allahu Akbar! Kalau teringat begitu parahnya kondisi badan saya lima tahun yang lalu, rasanya tidak terbayangkan saya masih bisa hidup hari ini. Allahu Akbar! Apalagi dengan kualitas hidup yang nyaris sempurna seperti sekarang ini. Allahu Akbar!

Sejak saya muntah darah tujuh tahun lalu, dan kemudian diketahui sepanjang saluran pencernaan saya sudah penuh dengan gelembung darah yang siap pecah (akan diikuti dengan muntah darah atau buang air darah), harapan hidup waktu itu hampir hilang.

Harapan hidup itu lebih tipis lagi setelah diketahui bahwa limpa saya sudah membesar. Sudah tiga kali lipat lebih besar dari limpa normal. Itu berarti limpa tersebut sudah siap meledak yang menjadi penyebab kematian kapan saja. Apalagi hati saya yang terkena virus hepatitis B pun, statusnya sudah meningkat menjadi sirosis, mengeras dan tidak berbentuk hati lagi.

Vonis bahwa umur saya maksimal tinggal enam bulan lagi, harus saya terima setelah dipastikan bahwa di dalam hati saya sudah penuh dengan kanker. Ukuran kankernya pun sudah besar-besar. Sudah ada yang 2 cm, 4 cm dan 6 cm. Bibit-bibit kanker lainnya masih puluhan jumlahnya.

Saya tidak akan lupa ucapan seorang dokter ahli di Singapura, yang sudah begitu pasrahnya. Terutama ketika saya mengeluh kesakitan setiap kali mengenakan sepatu. Kaki saya sudah bengkak begitu besarnya. Sepatu saya tidak muat lagi.

“Ya ganti sepatu saja!” Ujar dokter yang pasiennya 80% orang dari Indonesia itu. Padahal, waktu itu, saya mengharapkan jalan keluar bagaimana agar bengkak kaki saya itu bisa diatasi. “Tidak ada jalan lain. Ganti sepatu. Kalau bengkaknya sudah lebih besar lagi, ganti sepatu lagi!”

Saya tidak jengkel dengan ucapannya itu. Bahkan saya tersenyum karena terasa ada lucunya. Itulah cara dokter untuk memaksa saya melakukan transplantasi. Tidak ada jalan lain lagi.

Hanya transplant yang bisa menyelamatkan. Itu pun tidak bisa transplant separo hati (diambilkan dari hati istri atau anak atau pendonor), karena seluruh hati saya sudah hancur.

Harus hati sepenuh hati yang berarti hanya bisa didapat dari orang yang meninggal.

“Kalau pun itu bisa didapat, dan kalau pun itu nanti sukses,” kata dokter tersebut, “paling hanya bisa menambah umur lima tahun.” Saya juga tidak akan lupa ucapan dokter itu berikutnya: “Tapi, tambah umur lima tahun kan lumayan. Waktu itu nanti umur Anda kan sudah 61 tahun. Sudah lebih pantas meninggal.”

Saya memang akrab dengan dokter itu sehingga sekeras apa pun ucapannya tidak membuat saya kecewa. Sang dokter juga tahu bahwa saya cukup intelek untuk menerima kata-kata yang meskipun bernada keras, tapi sangat ilmiah.

Mengapa hasil transplant itu hanya bisa memperpanjang umur lima tahun? Secara ilmiah bisa diterangkan begini: virus hepatitis B dan sel-sel kanker hati saya itu, logikanya, sudah ikut beredar di darah. Berarti virus hepatitis B dan sel-sel kanker hati saya itu sudah berada di mana-mana. Ketika saya mendapatkan hati baru, dan hati baru tersebut dilewati darah yang sudah membawa virus hepatitis B dan sel-sel kanker, maka virus dan sel-sel tersebut otomatis hinggap lagi di hati yang baru.

Lalu virus hepatitisnya berkembang lagi, hati menjadi sirosis lagi, muntah darah lagi, bengkak lagi, dan kanker merajalela lagi.

Teori seperti itulah yang membuat tekad untuk melakukan transplant kadang mengendur. Untuk apa transplant. Mahal sekali dan belum tentu berhasil. Berhasil pun hanya untuk lima tahun. Pun, tambahan hidup lima tahun itu belum tentu bisa dinikmati. Bisa jadi kualitas hidup pasca transplant tersebut adalah kualitas hidup yang sangat rendah: harus minum banyak obat, sering masuk rumah sakit, menyusahkan keluarga, dan menghabiskan banyak uang.

Tapi orang hidup itu tidak boleh pesimistis.

Tidak boleh putus asa.
La taiasu!
La tahzan!

Ingat ajaran agama: Berikhtiar itu bukan mubah, bukan sunnah, tapi wajib!
Jadilah saya memutuskan transplantasi hati.

Tapi saya juga tidak terlalu berharap banyak. Takut kecewa. Orang yang tidak berharap banyak hidupnya bisa lebih bahagia.

Termasuk, saya tidak membayangkan bahwa setelah transplant nanti saya bisa jalan-jalan jauh. Saya pikir, saya nanti bisa hidup tapi dengan aktivitas yang terbatas. Kalau sebelum transplant saya putuskan membeli helikopter, antara lain untuk persiapan siapa tahu bisa membantu mobilitas saya.

Allahu Akbar! Transplantasi hati saya berhasil.

Kualitas hidup saya setelah transplant ternyata tidak selemah seperti yang saya bayangkan. Ternyata saya bisa bekerja, bisa ke mana-mana dan bisa di mana-mana. Saya bisa berolahraga setiap hari selama 1,5 jam!
Bahkan kalau Monas lagi hujan, saya bisa berolah raga dengan cara menaiki tangga darurat gedung-gedung pencakar langit milik BUMN di Jakarta: gedung Kementerian BUMN di dekat Monas, gedung Pertamina di dekat Masjid Istiqlal, gedung BTN di Harmoni, gedung Bank Mandiri di Jalan Gatot Subroto, gedung Bank Rakyat Indonesia di dekat Jembatan Semanggi, dan terakhir gedung Bank BNI di dekat patung Jenderal Sudirman. Tidak ada lagi gedung tinggi milik BUMN yang belum saya naik-turuni.

Rekor amatir saya: 16 menit naik, 12 menit turun!

Ulang tahun kelima Senin hari ini, tidak ada acara khusus karena ada dua kali sidang kabinet. Tapi, kemarin, sehari penuh, 1.000 penghafal Al Quran (Hufadz) berkumpul di Jakarta untuk khataman. Nanti sore, istri saya yang pertama, kedua, ketiga, dan keempat yang, hehe..., semuanya bernama Nafsiah Sabri, mengundang kelompok pengajian ibu-ibu untuk berbuka bersama.

Selama empat tahun hidup baru, saya selalu berada di lokasi yang berbeda. Ketika baru setahun “hidup baru”, saya berada di Kashmir yang saat itu lagi amat tegang oleh perang saudara. Tahun kedua saya sudah diajak Bapak Presiden SBY ke USA, Meksiko, Peru, dan Brasil.

Saya agak was-was menempuh perjalanan begitu jauh dan berat saat itu. Tapi ternyata tidak ada masalah yang besar.

Tahun ketiga saya ke Tiongkok untuk check-up total. Dan tahun keempat, tanpa disangka-sangka, saya menjadi CEO PLN dan mengundang 1.000 Hufadz untuk khataman Al Quran.

Allahu Akbar!
Hari ini, lima tahun terlewati dengan penuh berkah. Allah memberikan nikmat jauh melebihi dari yang saya gambarkan. Jauh sekali.

Semula, tidak lama setelah saya siuman dari pengaruh anestesi selama 13 jam, setelah saya menyadari bahwa operasi saya berhasil (meski masih untuk sementara), setelah saya mengucapkan rasa syukur, saya pun bertekad untuk tidak lagi mau mengurus perusahaan. Terutama karena selama dua tahun saya sakit toh perusahaan tetap berkembang.

Lalu saya hanya ingin mau mengerjakan tiga hal saja: menjadi guru jurnalistik, menulis buku, dan kembali mengurus pesantren keluarga. Kebetulan keluarga kami memiliki lebih dari 100 buah madrasah yang tergabung dalam Pesantren Sabilil Muttaqien, yang didirikan oleh seorang mursyid tarekat Syathariyah. Saya merasa bersalah karena selama itu saya terlalu sibuk ‘mencari duit’ sehingga kurang ikut mengurus pesantren ini.

Sama sekali tidak membayangkan kalau suatu saat saya diminta oleh Bapak Presiden SBY untuk menjadi CEO PLN. Saya sudah merasa sangat bahagia kalau bisa menjadi guru jurnalistik, menulis buku, dan mengurus pesantren. Tidak ada bayangan sama sekali menjadi pejabat.

Saya pun sudah mencoba menolak mati-matian jabatan CEO PLN itu, tapi pada akhirnya ini: dengan memperpanjang umur saya, mungkin Allah punya kehendak lain yang harus saya kerjakan. Saya pun menerima takdir itu. Pun ketika kemudian harus menjadi Menteri Negara BUMN.

Toh saya masih tetap bisa mengajar jurnalistik, menulis buku, dan mengurus pesantren keluarga.
Pekerjaan penting menjelang lima tahun ‘hidup baru’ ini tentu harus saya lakukan: memeriksa apakah ada sel-sel kanker di badan saya, sisa-sisa kanker yang dulu.

Allahu Akbar! Tidak ada.

Sumber : www.kabarbisnis.com
More aboutDahlan: Hidup di Perpanjang Lima Tahun